Korona dan Manusia yang Memberontak

Adakah hal yang lebih absurd daripada kematian? Rasanya tidak ada yang lebih absurd dari kematian selain kematian itu sendiri. Kematian adalah yang paling absurd dari seluruh absurditas yang ada di dunia ini.

Albert Camus, eksistensialis Perancis, mengatakan hidup yang absurd adalah ketidakjelasan tujuan hidup. Ketidakjelasan hidup bukan lahir dari ketidakmampuan manusia untuk merumuskan apa yang menjadi tujuan hidupnya, tetapi karena seluruh eksistensinya berhadapan dengan suatu realitas beku yang tak punya nyawa: kematian!

Hari-hari ini kita dihadapkan pada absurditas bernama corona virus disease (covid-19). Corona hadir di hadapan kita tidak sekedar sebagai virus yang tak kasat mata, tetapi dalam suatu konsep metafisis purba yakni kematian. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kematian!

Saya kira jika corona tidak berdampak kematian, maka ia tak akan pernah ditakuti. Jangankan ditakuti, tidak dipedulikan sama sekali. Justru karena dia menghadirkan wajah kematian ke hadapan kita, hidup kita terasa kering dan seketika kehilangan maknanya. Makna hidup yang kita rumuskan dalam cita-cita dan harapan seketika layu sebelum berkembang karena kematian yang membayang itu.

Kematian itu absurd. Tak dapat dijelaskan oleh rasio. Absurditas, kata Sastrapratedja, adalah gambaran kontradiksi-kontradiksi antara dunia yang irasional dengan keinginan manusia akan realitas yang jelas. Di satu sisi kita mendambakan hidup yang baik, masa depan yang cerah, tetapi di sisi lain ada pesimisme bahwa seluruh gambaran itu tenggelam dan hilang dalam bayang-bayang kematian.

Memaknai Kematian
Sesuatu yang hidup pasti akan mati. Hidup sejak permulaannya selalu menuju kepada kematian. Kehidupan selalu berada dalam bayang-bayang kematian. Filsuf Jerman Martin Heidegger menyebut manusia sebagai “ada menuju kematian” (sein zum tode) sebagai suatu cara berada yang khas. Kematian adalah tujuan hidup manusia.

Manusia, sebagai sesuatu yang terlempar ke dalam dunia (das sein) itu, tidak sekedar tergeletak begitu saja, tetapi ia adalah ada yang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi kematian. Ia bisa “menunda” kematian dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan bagi banyak orang.

Misalnya seorang dokter akan menjadi manusia yang otentik manakala ia sungguh-sungguh melayani sebagaimana seorang dokter seharusnya. Melayani dengan cara-cara yang luar biasa (extraordinary) untuk menyelamatkan hidup pasiennya. Seorang dokter adalah manusia biasa yang sadar bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang lebih dari yang biasa-biasa saja. Dengan begitu ia tidak saja berguna bagi kehidupan orang lain, tetapi ia melampaui ‘keterbatasan’ dirinya menjadi manusia otentik.

Berhadapan dengan kematian, kita selalu cemas. Kecemasan adalah ciri paling dasar dari manusia yang menyadari bahwa ia terbatas di hadapan kematian. Sadar akan keterbatasan itu, ia mampu mengantisipasinya dengan tindakan-tindakan yang otentik sebagai perwujudan dari kemanusiaannya dalam kesehariannya.

Orang yang sadar akan kematian dan cemas terhadap kematian yang selalu menjelang itu, adalah manusia otentik yang apa adanya. Ia tidak menjadi manusia yang asal-asalan, tidak menjadi orang lain, tetapi ia menjadi otentik dengan menjadi diri sendiri secara otonom. Ia menjadi manusia yang total dalam tugas dan pelayanan yang biasa dengan cara-cara yang luar biasa.

Dalam hidup manusia dituntut untuk senantiasa menjadi otentik, menjadi diri sendiri dengan semangat lebih di hadapan kematian. Dengan menjadi diri sendiri seseorang tahu cara menghargai hidup yang singkat ini, tahu cara memaknai hidup yang singkat ini di dalam dunia kehidupan.

Lebih dari itu, menjadi pribadi yang otentik membuat setiap individu sadar bahwa ia berada bersama dengan orang lain di sekitarnya dan kebersamaan itu membuatnya menjadi pribadi yang kooperatif dan terbuka. Orang yang sadar akan kematian yang selalu menjelang adalah orang yang hidup seakan-akan hari ini adalah hari terakhir ia hidup, itu makanya ia akan sangat menghargai setiap detik kehidupannya untuk melakukan sesuatu yang terbaik dengan yang cara yang paling baik.

Gerak Bersama di Simpang Jalan Kematian
Keberadaan manusia di dalam dunia bersama dengan yang lain adalah suatu fakta sejarah yang tak bisa dipungkiri. Kita hidup bersama dengan yang lain dalam suatu komunitas manusia. Sosialitas itu salah satu kekhasan manusia selain ciri individualistik.

Pandemi Corona ini membuat kita semakin tersudut ke ruang-ruang gelap kesia-siaan hidup, membuat kita merasa sendiri. Apalagi ditambah dengan himbauan global untuk melakukan social/physical distancing (swakarantina) semakin membuat kita terhempas dari eksistensi diri kita.

Hidup seperti tak lagi bermakna dalam suatu kondisi berjarak dari yang lain. Suatu kondisi yang kontradiksi dari kekhasan manusia sebagai makhluk sosial yang ada bersama dengan yang lain. Namun, hidup bukanlah hidup jika hanya “patuh dan tunduk” kepada sang nasib yang kejam itu. Meskipun hidup adalah suatu ziarah menuju kematian, ia harus dihadapi dengan pemberontakan eksistensial yang total.

Aku memberontak maka aku ada. Camus memilih pemberontakan sebagai jalan eksistensial untuk menghadapi yang absurd, menghadapi dunia yang dirundung kemalangan. Yang irasional harus dihadapi dengan sikap dingin yang konsisten di jalan perjuangan.

Perlu disadari bahwa kita ini terbatas. Di hadapan kematian yang tak membuka ruang kompromi itu, jalan satu-satunya adalah dengan terlibat secara aktif di dalam ‘pemberontakan’ untuk memenangkan pertandingan yang sejatinya sia-sia. Ia sia-sia karena semua sudah tahu hasil akhirnya adalah kekalahan.

Meski pertandingan itu menghasilkan kekalahan bagi kita, toh ada moralitas di sana yang dipertaruhkan. Suatu moralitas keterlibatan yang khas manusiawi, yang dengan sadar mengetahui seluruh tindakannya dilaksanakan dengan dan untuk alasan kemanusiaan.

Moralitas keterlibatan, menurut Setyo Wibowo, bukanlah suatu tindakan nekad manusia untuk melawan kematian, tidak! Moralitas keterlibatan adalah suatu kesadaran bahwa kematian itu absurd dan di hadapan absurditas itu, dengan segala daya dan tenaga, kesadaran dan kehendak, kita tampil berjuang bersama di sisi korban kebathilan itu.

Di hadapan kebathilan ini, di hadapan para korban, kita semua terpanggil untuk terlibat menyelamatkan yang tersisa. Panggilan untuk terlibat di sisi korban adalah sebuah panggilan kolektif yang sekaligus “menuntut” kita untuk bergerak menolong mereka yang paling membutuhkan.

Ketika dunia diwabahi oleh Corona, kita bisa melihat ada orang yang dengan kesadarannya, mengambil posisi di samping para korban yang terpapar Corona. Mereka adalah para dokter, perawat, para petugas medis, dan para relawan kemanusiaan yang dengan caranya masing-masing berjuang untuk meminimalisir jumlah korban. Apakah mereka tidak takut terjangkit virus yang menyebabkan kematian?

Mereka pasti takut, mereka manusia sama seperti kita yang juga sayang hidupnya. Mereka punya orang tua, punya keluarga, istri/suami dan anak, kakak-adik, tetapi mereka merasa panggilan untuk terlibat di sisi korban merupakan partisipasi nyata di dalam persaudaraan universal.

Apa yang dilakukan oleh para tenaga medis dan relawan ini adalah suatu ajakan kepada kita semua untuk terlibat di sisi korban. Keterlibatan di sisi korban harus menjadi suatu gerakan moral kita bersama meski di hadapan kita ada suatu kebathilan tanpa nama: kematian! Berhadapan dengan kematian, hidup adalah sebuah persembahan terbaik bagi diri sendiri dan sesama dalam pelayanan total.